|
|
Teater
Kata teater atau drama
berasal dari bahasa Yunani ”theatron” yang berarti seeing Place (Inggris). Sebenarnya istilah
teater merujuk pada gedung pertunjukan, sedangkan istilah drama merujuk pada
pertunjukannya, namun kini kecenderungan orang untuk menyebut pertunjukan drama
dengan istilah teater. Tontonan drama memang menonjolkan percakapan (dialog)
dan gerak-gerik para pemain (aktif) di panggung. Percakapan dan gerak-gerik itu
memperagakan cerita yang tertulis dalam naskah. Dengan demikian, penonton dapat
langsung mengikuti dan menikmati cerita tanpa harus membayangkan.
Teater sebagai
tontotan sudah ada sejak zaman dahulu. Bukti tertulis pengungkapan bahwa teater
sudah ada sejak abad kelima SM. Hal ini didasarkan temuan naskah teater kuno di
Yunani. Penulisnya Aeschylus yang hidup antara tahun 525-456 SM.
Dalam arti luas Teater adalah kisah hidup
atau kehidupan manusia yang dipertunjukan di depan orang banyak.
Dalam arti sempit Teater adalah kisah hidup
dan kehidupan manusia yang diceritakan dalam pentas, disaksikan oleh orang
banyak, dengan media, gerak, percakapan dan laku, dengan atau tanpa dekor
(layer); Didasarkan pada naskah yang tertulis (hasil seni sastra) dengan atau
tanpa musik.
Jadi Teater adalah salah satu bentuk kegiatan manusia yang
secara sadar menggunakan tubuhnya sebagai unsur utama untuk menyatakan dirinya
yang diwujutkan dalam suatu karya seni suara, bunyi dan rupa yang dijalin dalam
cerita pergulatan kehidupan manusia.
Dari rumusan diatas dapt ditarik kesimpulan bahwa unsur-unsur
teater menurut urutannya adalah sebabagai berikut :
1. Tubuh, manusia
sebagai unsur utama ( pemeran/pelaku/pemain)
2. Gerak, sebagai unsur
penunjang.
3. Suara, sebagai unsur
penunjang ( kata/untuk acuan pemeran)
4. Bunyi, sebagai unsur
penunjang ( bunyi benda,efek dan musik).
5. Rupa sebagai unsur
penunjang ( cahaya, rias dan kostum.).
6. Lakon sebagai unsur
penjalin ( cerita,non cerita,fiksi dan narasi ).
TEATER di INDONESIA
Kasim Achmad dalam
bukunya Mengenal Teater Tradisional di
Indonesia (2006) mengatakan, sejarah teater tradisional di Indonesia
dimulai sejak sebelum Zaman Hindu. Teater tradisional merupakan bagian dari
suatu upacara keagamaan ataupun upacara adat-istiadat dalam tata cara kehidupan
masyarakat kita. Pada saat itu, yang disebut “teater”, sebenarnya baru
merupakan unsur-unsur teater, dan belum merupakan suatu bentuk kesatuan teater
yang utuh. Setelah melepaskan diri dari kaitan upacara, unsur-unsur teater
tersebut membentuk suatu seni pertunjukan yang lahir dari spontanitas rakyat
dalam masyarakat lingkungannya.
Proses terjadinya atau
munculnya teater tradisional di Indonesia sangat bervariasi dari satu daerah
dengan daerah lainnya. Hal ini disebabkan oleh unsur-unsur pembentuk teater
tradisional itu berbeda-beda, tergantung kondisi dan sikap budaya masyarakat,
sumber dan tata-cara di mana teater tradisional lahir.
10 Seni teater Tradisional Indonesia
1. Wayang
Asal Kata Wayang dapat
diartikan Bayang. Wayang dikenal sejak zaman prasejarah yaitu sekitar 1500
tahun sebelum Masehi. Masyarakat Indonesia memeluk kepercayaan animisme berupa
pemujaan roh nenek moyang yang disebut hyang atau dahyang, yang diwujudkan
dalam bentuk arca atau gambar.
Wayang merupakan seni
tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Pulau Jawa dan Bali.
Pertunjukan wayang telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003,
sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan
yang indah dan sangat berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of
Humanity).
2. Makyong
Makyong adalah seni
teater tradisional masyarakat Melayu yang sampai sekarang masih digemari dan
sering dipertunjukkan sebagai dramatari dalam forum internasional. Makyong
dipengaruhi oleh budaya Hindu-Buddha Thai dan Hindu-Jawa. Nama makyong berasal
dari mak hyang, nama lain untuk dewi sri, dewi padi.
Makyong adalah teater
tradisional yang berasal dari Pulau Bintan, Riau. Makyong berasal dari kesenian
istana sekitar abad ke-19 sampai tahun 1930-an. Makyong dilakukan pada siang
hari atau malam hari. Lama pementasan ± tiga jam
3. Drama Gong
Drama Gong adalah
sebuah bentuk seni pertunjukan Bali yang masih relatif muda usianya yang
diciptakan dengan jalan memadukan unsur-unsur drama modern (non tradisional
Bali) dengan unsur-unsur kesenian tradisional Bali. Nama Drama Gong diberikan
kepada kesenian ini oleh karena dalam pementasannya setiap gerak pemain serta
peralihan suasana dramatik diiringi oleh gamelan Gong (Gong Kebyar). Drama Gong
diciptakan sekitar tahun 1966 oleh Anak Agung Gede Raka Payadnya dari desa
Abianbase (Gianyar).
Drama Gong mulai
berkembang di Bali sekitar tahun 1967 dan puncak kejayaannya adalah tahun1970.
Namun semenjak pertengahan tahun 1980 kesenian ini mulai menurun
popularitasnya, sekarang ini ada sekitar 6 buah sekaa Drama Gong yang masih
aktif.
4. Randai
Randai adalah kesenian
(teater) khas masyarakat Minangkabau, Sumatra Barat yang dimainkan oleh
beberapa orang (berkelompok atau beregu). Randai dapat diartikan sebagai
“bersenang-senang sambil membentuk lingkaran” karena memang pemainnya berdiri
dalam sebuah lingkaran besar bergaris tengah yang panjangnya lima sampai
delapan meter. Cerita dalam randai, selalu mengangkat cerita rakyat
Minangkabau, seperti cerita Cindua Mato, Malin Deman, Anggun Nan Tongga, dan
cerita rakyat lainnya. Konon kabarnya, randai pertama kali dimainkan oleh
masyarakat Pariangan, Padang Panjang, ketika mereka berhasil menangkaprusa yang
keluar dari laut.
Kesenian randai sudah
dipentaskan di beberapa tempat di Indonesia dan bahkan dunia. Bahkan randai
dalam versi bahasa Inggris sudah pernah dipentaskan oleh sekelompok mahasiswa
di University of Hawaii, Amerika Serikat.
Kesenian randai yang
kaya dengan nilai etika dan estetika adat Minangkabau ini, merupakan hasil
penggabungan dari beberapa macam seni, seperti: drama (teater), seni musik,
tari dan pencak silat.
5. Mamanda
Mamanda adalah seni
teater atau pementasan tradisional yang berasal dari Kalimantan Selatan.
Dibanding dengan seni pementasan yang lain, Mamanda lebih mirip dengan Lenong
dari segi hubungan yang terjalin antara pemain dengan penonton. Interaksi ini
membuat penonton menjadi aktif menyampaikan komentar-komentar lucu yang
disinyalir dapat membuat suasana jadi lebih hidup.
Bedanya, Kesenian
lenong kini lebih mengikuti zaman ketimbang Mamanda yang monoton pada alur
cerita kerajaan. Sebab pada kesenian Mamanda tokoh-tokoh yang dimainkan adalah
tokoh baku seperti Raja, Perdana Menteri, Mangkubumi, Wazir, Panglima Perang,
Harapan Pertama, Harapan kedua, Khadam (Badut/ajudan), Permaisuri dan Sandut
(Putri).
Disinyalir istilah
Mamanda digunakan karena di dalam lakonnya, para pemain seperti Wazir, Menteri,
dan Mangkubumi dipanggil dengan sebutan pamanda atau mamanda oleh Sang Raja.
Mamanda secara etimologis terdiri dari kata "mama" (mamarina) yang
berarti paman dalam bahasa Banjar dan “nda” yang berarti terhormat. Jadi
mamanda berarti paman yang terhormat. Yaitu “sapaan” kepada paman yang dihormati
dalam sistem kekerabatan atau kekeluargaan.
Asal muasal Mamanda
adalah kesenian Badamuluk yang dibawa rombongan Abdoel Moeloek dari Malaka
tahun 1897. Dulunya di Kalimantan Selatan bernama Komedi Indra Bangsawan.
Persinggungan kesenian lokal di Banjar dengan Komedi Indra Bangsawan melahirkan
bentuk kesenian baru yang disebut sebagai Ba Abdoel Moeloek atau lebih tenar
dengan Badamuluk.
Bermula dari
kedatangan rombongan bangsawan Malaka (1897 M) yang dipimpin oleh Encik Ibrahim
dan isterinya Cik Hawa di Tanah Banjar, kesenian ini dipopulerkan dan disambut
hangat oleh masyarakat Banjar. Setelah beradaptasi, teater ini melahirkan
sebuah teater baru bernama "Mamanda".
Seni drama tradisional
Mamanda ini sangat populer di kalangan masyarakat kalimantan pada umumnya.
6. Longser
Longser merupakan
salah satu bentuk teater tradisional masyarakat
sunda, Jawa barat. Longser
berasal dari akronim kata melong (melihat dengan kekaguman) dan saredet (tergugah)
yang artinya barang siapa yang melihat pertunjukan longser, maka hatinya akan
tergugah. Longser yang penekanannya pada tarian disebut ogel atau doger.
Sebelum longser lahir dan berkembang, terdapat bentuk teater tradisional yang
disebut lengger.
Busana yang dipakai
untuk kesenian ini sederhana tapi mencolok dari segi warnanya terutama busana
yang dipakai oleh ronggeng. Biasanya seorang ronggeng memakai kebaya dan kain
samping batik. Sementara, untuk lelaki memakai baju kampret dengan celana
sontog dan ikat kepala.
7. Ketoprak
Ketoprak merupakan
teater rakyat yang paling populer, terutama di daerah Yogyakarta dan daerah
Jawa Tengah. Namun di Jawa Timur pun dapat ditemukan ketoprak. Di daerah-daerah
tersebut ketoprak merupakan kesenian rakyat yang menyatu dalam kehidupan mereka
dan mengalahkan kesenian rakyat lainnya seperti srandul dan emprak.
Kata ‘kethoprak’
berasal dari nama alat yaitu Tiprak. Kata Tiprak ini bermula dari prak. Karena
bunyi tiprak adalah prak, prak, prak.
Dapat disimpulkan
bahwa Kethoprak adalah seni pertunjukan teater atau drama yang sederhana yang meliputi
unsur tradisi jawa, baik struktur lakon, dialog, busana rias, maupun
bunyi-bunyian musik tradisional yang dipertunjukan oleh rakyat.
8. Ludruk
Ludruk merupakan salah
satu kesenian Jawa Timuran yang cukup terkenal, yakni seni panggung yang
umumnya seluruh pemainnya adalah laki-laki. Ludruk merupakan suatu drama
tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang di gelarkan
disebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari
(cerita wong cilik), cerita perjuangan dan lain sebagainya yang diselingi
dengan lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai musik.
Dialog/monolog dalam
ludruk bersifat menghibur dan membuat penontonnya tertawa, menggunakan bahasa
khas Surabaya, meski kadang-kadang ada bintang tamu dari daerah lain seperti
Jombang, Malang, Madura, Madiun dengan logat yang berbeda. Bahasa lugas yang
digunakan pada ludruk, membuat dia mudah diserap oleh kalangan non intelek
(tukang becak, peronda, sopir angkutan umum, dll).
9. Lenong
"Lenong"
adalah seni pertunjukan teater tradisional masyarakat Betawi, Jakarta. Lenong berasal
dari nama salah seorang Saudagar China yang bernama Lien Ong. Konon, dahulu
Lien Ong lah yang sering memanggil dan menggelar pertunjukan teater yang kini
disebut Lenong untuk menghibur masyarakat dan khususnya dirinya beserta
keluarganya. Pada zaman dahulu (zaman penjajahan), lenong biasa dimainkan oleh
masyarakat sebagai bentuk apresiasi penentangan terhadap tirani penjajah.
Pada mulanya kesenian
ini dipertunjukkan dengan mengamen dari kampung ke kampung. Pertunjukan diadakan
di udara terbuka tanpa panggung. Ketika pertunjukan berlangsung, salah seorang
aktor atau aktris mengitari penonton sambil meminta sumbangan secara sukarela
Terdapat dua jenis lenong yaitu lenong denes dan lenong preman. Dalam lenong denes (dari kata denes dalam dialek Betawi yang berarti “dinas” atau “resmi”), aktor dan aktrisnya umumnya mengenakan busana formal dan kisahnya ber-seting kerajaan atau lingkungan kaum bangsawan, sedangkan dalam lenong preman busana yang dikenakan tidak ditentukan oleh sutradara dan umumnya berkisah tentang kehidupan sehari-hari. Selain itu, kedua jenis lenong ini juga dibedakan dari bahasa yang digunakan; lenong denes umumnya menggunakan bahasa yang halus (bahasa Melayu tinggi), sedangkan lenong preman menggunakan bahasa percakapan sehari-hari.
10. Ubrug
Terdapat dua jenis lenong yaitu lenong denes dan lenong preman. Dalam lenong denes (dari kata denes dalam dialek Betawi yang berarti “dinas” atau “resmi”), aktor dan aktrisnya umumnya mengenakan busana formal dan kisahnya ber-seting kerajaan atau lingkungan kaum bangsawan, sedangkan dalam lenong preman busana yang dikenakan tidak ditentukan oleh sutradara dan umumnya berkisah tentang kehidupan sehari-hari. Selain itu, kedua jenis lenong ini juga dibedakan dari bahasa yang digunakan; lenong denes umumnya menggunakan bahasa yang halus (bahasa Melayu tinggi), sedangkan lenong preman menggunakan bahasa percakapan sehari-hari.
10. Ubrug
Ubrug di Pandeglang
dikenal sebagai kesenian tradisional rakyat yang semakin hari semakin dilupakan
oleh penggemarnya. Istilah ‘ubrug’ berasal dari bahasa Sunda ‘sagebrugan’ yang
berarti campur aduk dalam satu lokasi.
Kesenian ubrug
termasuk teater rakyat yang memadukan unsur lakon, musik, tari,
dan pencak silat. Semua unsur itu dipentaskan secara komedi. Bahasa yang
digunakan dalam pementasan, terkadang penggabungan dari bahasa Sunda, Jawa, dan
Melayu (Betawi). Alat musik yang biasa dimainkan dalam pemenetasan adalah
gendang, kulanter, kempul, gong angkeb, rebab, kenong, kecrek, dan ketuk.
Selain berkembang di
provinsi Banten, kesenian Ubrug pun berkembang sampai ke Lampung dan Sumatera
Selatan yang tentunya dipentaskan menggunakan bahasa daerah masing-masing.
AKTING YANG BAIK
Akting yang baik merupakan perpaduan dialog yang
baik dan gerak yang baik
Dialog yang baik ialah dialog yang :
1.terdengar (volume baik)
2.jelas (artikulasi baik)
3.dimengerti (lafal benar)
4.menghayati (sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam
naskah)
Gerak yang baik ialah gerak yang :
1.terlihat (blocking baik)
2.jelas (tidak ragu‑ragu, meyakinkan)
3.dimengerti (sesuai dengan hukum gerak dalam kehidupan)
4.menghayati (sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam
naskah)
Penjelasan :
1. Volume suara yang baik ialah suara yang dapat terdengar sampai jauh
2. Artikulasi yang baik ialah pengucapan yang jelas. Setiap suku kata
terucap dengan jelas dan terang meskipun diucapkan dengan cepat sekali. Jangan
terjadi kata‑kata yang diucapkan menjadi tumpang tindih.
3. Lafal yang benar pengucapan kata yang sesuai dengan hukum pengucapan
bahasa yang dipakai . Misalnya berani yang berarti "tidak takut"
harus diucapkan berani bukan ber‑ani.
4. Menghayati atau menjiwai berarti tekanan atau lagu ucapan harus dapat
menimbulkan kesan yang sesuai dengan tuntutan peran dalam naskah
5. Blocking ialah penempatan pemain di panggung, diusahakan antara pemain
yang satu dengan yang lainnya tidak saling menutupi sehingga penonton tidak
dapat melihat pemain yang ditutupi.
6. Jelas, tidak ragu‑ragu, meyakinkan, mempunyai pengertian bahwa gerak
yang dilakukan jangan setengah‑setengah bahkan jangan sampai berlebihan. Kalau
ragu‑ragu terkesan kaku sedangkan kalau berlebihan terkesan over acting
7. Dimengerti, berarti apa yang kita wujudkan dalam bentuk gerak tidak
menyimpang dari hukum gerak dalam kehidupan. Misalnya bila mengangkat barang
yang berat dengan tangan kanan, maka tubuh kita akan miring ke kiri, dsb.
8. Menghayati berarti gerak‑gerak anggota tubuh maupun gerak wajah harus
sesuai tuntutan peran dalam naskah, termasuk pula bentuk dan usia.
MEDITASI dan
KONSENTRASI
MEDITASI
Secara umum meditasi artinya adalah menenangkan
pikiran. Dalam teater dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk menenangkan dan
mengosongkan pikiran dengan tujuan untuk memperoleh kestabilan diri.
Tujuan Meditasi :
1. Mengosongkan
pikiran.
Kita mencoba mengosongkan pikiran kita, dengan
jalan membuang segala sesuatu yang ada dalam pikiran kita, tentang berbagai
masalah baik itu masalah keluarga, sekolah, pribadi dan sebagainya. Kita
singkirkan semua itu dari otak kita agar pikiran kita bebas dari segala beban dan
ikatan.
2.Meditasi sebagai
jembatan.
Disini alam latihan kita sebut sebagai alam
"semu", karena segala sesuatu yang kita kerjakan dalam latihan adalah
semu, tidak pernah kita kerjakan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi setiap gerak
kita akan berbeda dengan kelakuan kita sehari-hari. Untuk itulah kita
memerlukan suatu jembatan yang akan membawa kita dari alam kehidupan kita
sehari-hari ke alam latihan.
Cara meditasi :
1. Posisi tubuh tidak terikat, dalam arti tidak dipaksakan. Tetapi yang
biasa dilakukan adalah dengan duduk bersila, badan usahakan tegak. Cara ini
dimaksudkan untuk memberi bidang/ruangan pada rongga tubuh sebelah dalam.
2. Atur pernapasan dengan baik, hirup udara pelan-pelan dan keluarkan juga
dengan perlahan. Rasakan seluruh gerak peredaran udara yang masuk dan keluar
dalam tubuh kita.
3. Kosongkan pikiran kita, kemudian rasakan suasana yang ada disekeliling
kita dengan segala perasaan. Kita akan merasakan suasana yang hening, tenang,
bisu, diam tak bergerak. Kita menyuruh syaraf kita untuk lelap, kemudian kita
siap untuk berkonsentrasi.
Catatan :
Pada
suatu saat mungkin kita kehilangan rangsangan untuk berlatih, seolah-olah
timbul kelesuan dalam setiap gerak dan ucapan. Hal ini sering terjadi akibat diri terlalu lelah atau terlalu banyak
pikiran. Jika hal ini tidak diatasi dan kita paksakan untuk berlatih, maka akan
sia-sia belaka. Cara untuk mengatasi adalah dengan MEDITASI. Meditasi juga
perlu dilakukan bila kita akan bermain di panggung, agar kita dapat
mengkonsentrasikan diri kita dengan peran yang hendak kita bawakan.
KONSENTRASI
Konsentrasi secara umum
berarti "pemusatan". Dalam teater kita mengartikannya dengan
pemusatan pikiran terhadap alam latihan atau peran-peran yang akan kita bawakan
agar kita tidak terganggu dengan pikiran-pikiran lain, sehingga kita dapat
menjiwai segala sesuatu yang kita kerjakan.
Cara konsentrasi :
1. Kita harus melakukan dahulu meditasi. Kita kosongkan dulu pikiran kita, dengan cara-cara
yang sudah ditentukan. Kita kerjakan sesempurna mungkin agar pikiran kita
benar-benar kosong dan siap berkonsentrasi.
2. Setelah pikiran kita kosong, mulailah memasuki otak kita dengan satu
unsur pikiran. Rasakan bahwa saat ini sedang latihan, kita memasuki alam semu
yang tidak kita dapati dalam kehidupan sehari-hari. Jangan memikirkan yang
lain, selain bahwa kita saat ini sedang latihan teater.
Catatan :
Pada
saat kita akan membawakan suatu peran, misalnya sebagai ayah, nenek, gadis
pemalu dan sebagainya, baik itu dalam latihan atau pementasan, konsentrasikan
pikiran kita pada hal tersebut. Jangan sekali-kali memikirkan yang lain.
Imajinasi
Imajinasi adalah suatu cara bagi seorang actor
untuk mendekati pikiran dan perasaan karakter yang akan dimainkan sehingga dia
dapat menempatkan dirinya dalam situasi si karakter. Metode ini merupakan
proses imajinasi dimana di actor melakukan identifikasi dengan karakter
tokohnya. Di setiap identifikasi dengan karakter tokohnya, si actor harus
melihat pengalaman hidupnya dan pengalaman hidup yang paling relevan untuk
ditransver ke pengalaman hidup yang dimiliki si karakter. Si actor harus mampu
menyelidiki asal mula dirinya sendiri untuk dapat tulus dan jujur pada realita
eksistensi dirinya yang baru.
Imajinasi menciptakan hal-hal yang mungkin ada
atau mungkin terjadi, sedangkan fantasi membuat hal-hal yang tidak ada, yang
tidak pernah ada. Tapi siapa tahu, suatu hari kesemuanya itu mungkin ada. Bagi
seorang actor, proses kreatif ini dipimpin oleh imajinasinya.
kesalahan dalam imajinasi ; Pertama, anda memaksa
imajinasi anda, padahal sebetulnya anda harus membujuknya. Lalu, anda coba
merenung tanpa suatu objek yang menarik bagimu. Kesalahan yang ketiga adalah
pikiran anda pasif. Dalam imajinasi, aktifitas yang intens sangatlah penting.
Awalnya datang gerakan dari dalam, kemudian gerakan luar.
Mengembangkan imajinasi :
Pertama-tama coba ceritakan tentang kehidupan
sehari-hari terhadap pengalaman yang paling sensitive. Apa yang paling mudah
untuk merangsang perasaanmu, rasa takut dan gembira anda.
Jika anda mengetahui betul seluk beluk sifat-sifat
anda sendiri maka bagi anda tidak akan sulit untuk mengadaptasikannya ke dalam
keadaan imajiner. Karena itu, paparkan beberapa sifat khas, kualitas,
perhatian, yang khas yang anda miliki. Anda harus bisa menjawab (kapan, dimana,
kenapa, bagaimana) yang anda ajukan sendiri. Imajinasinya mungkin bekerja
secara intuitif. Sebuah pendekatan secara sadar dan dengan akal pada imajinasi
seringkali menghasilkan suatu perasaan hidup palsu yang tak berdarah. Seni
acting menghendaki supaya seluruh harkat seorang actor terlibat secara aktif,
supaya ia menyerahkan dirinya, baik bathin maupun lahir, kepada peran yang ia
mainkan.
Indra
Manusia yang normal dikaruniai Tuhan dengan lima
panca indera secara utuh. Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu menggunakan
panca indera kita tersebut, baik secara bersama-sama ataupun sendiri-sendiri.
Dalam teater kita juga harus menggunakan indera kita dengan baik agar dapat
memainkan suatu peran dengan baik pula.
Supaya alat-alat indera kita dapat bekerja
semaksimal mungkin, tentu saja harus dilatih. Hal ini sangat perlu dalam teater
untuk membantu kita dalam membentuk ekspresi. Bentuk-bentuk latihan yang dapat
dilakukan, antara lain :
1. Mata
§ Duduk bersila perlahan mengerak matan ke atas, ke kanan ke bawah
kekiri.
§ Duduk bersila sambil menatap suatu titik di dinding. Konsentrasi hanya
pada titik tersebut. Usahakan menatap titik tersebut tanpa berkedip, selama
mungkin.
§ Duduk bersila menatap suatu titik ; dikanan, dikiri, diatas, dibawah,
lakukan selama mungkin
§ Duduk bersila lalu memperhatikan kuku jempol tangan. Amati setiap
detail. Lalu perlahan goyangkan kekanan kekiri, gunakan konsentrasi.
§ Duduk bersila saling berhadapan, menatap mata satu dengan yang lain,
jaga konsentrasi selama mungkin.
§ Pura – pura jadi orang buta.
2. Telinga
§ Duduk bersila, pejamkan mata. Sementara itu seseorang mengetuk-ngetuk
sesuatu pada beberapa macam benda, dimana setiap benda memiliki nada / suara
yang berlainan. Hitunglah berapa kali ketukan pada benda yang sudah ditentukan.
§ Duduklah ditepi jalan yang ramai, sambil memejamkan mata. Cobalah untuk
mengenali suara apa saja yang masuk ke telinga, misalnya suara truk, bis,
sepeda motor, suara tawa seseorang diatas sepeda motor, suara sepatu diatas
trotoar,dsb.
- Hidung
Duduk ditepi
jalan sambil memejamkan mata, kemudian cobalah untuk mengenali bau apa yang ada
disekitar kita. Misalnya bau keringat orang yang lewat didepan kita, bau
parfum, asap knalpot, asap rokok, atau tanah yang baru disiram hujan, dsb.
Ciumlah tangan,
kaki, pakaian, dan jika bisa seluruh tubuh kita, rasakan dan hayati benar-benar
bagaimana baunya.
1. Kulit
Rabalah tangan,
kaki, kepala dan seluruh tubuh kita, juga pakaian kita. Rasakan dan kenalilah
tubuh kita itu, cari perbedaan antara setiap tubuh.
Rabalah dinding,
lantai, meja, atau benda-benda lain. Perhatikanlah bagaimana rasanya, dingin
atau panas. Juga sifatnya halus atau kasar dan coba juga mengenali bentuknya.
Lakukan latihan ini dengan mata terpejam.
1. Lidah
Rabalah dengan
lidah bagaimana bentuk mulut kita, bagaimana bentuk gigi, langit-langit, bibir,
dsb.
Rasakan
dengan menjilat, bagaimana rasa dari sebuah kancing baju, sapu tangan, batang
pensil, tangan yang berkeringat,dsb.
TUBUH
1. Relaksasi
Realaksasi adalah hal pertama yang haru dilakukan
dengan cara menerima keberadaan dirinya. Relaksasi bukan berarti berada dalam
keadaan pasif (santai) tetapi keadaan dimana semua kekangan yang ada di tubuh
terlepas.
Salah satu masalah yang sering dihadapi oleh aktor
adalah kebutuhan untuk relaksasi. Baik itu di dalam kelas, dalam latihan, di
atas panggung, maupun paska produksi. Relaksasi adalah hal yang sangat penting
bagi semua performer. Relaksasi bukanlah keadaan mentla dan fisik yang tidak
aktif, melainkan keadaan yang cukup aktif dan positif. Ini memungkinkan seorang
aktor untuk mengekspresikan dirinya saat masih didalam kontrol faktor-faktor
lain yang bekerja melawan cara pemeranan karakter yang baik. Jadi, relaksasi
adalah hal yang penting dalam upaya mencapai tujuan utama dari seorang
performer.
Segala sesuatu yang mengalihkan perhatian ataupun
yang mencampuri konsentrasi seorang aktor atas sebuah karakter, cenderung dapat
merusak relaksasi. Aktor pemula biasanya tidak dapat dengan mudah merespon
sebuah perintah untuk relak, hal ini disebabkan berkaitan dengan aspek-aspek
fisik kepekaan dan emosi akting ketika berada dihadapan penonton. Dengan kata
lain, dalam keadaan rileks, aktor akan menunggu dengan tenang dan sadar dalam
mengambil tempat dan melakukan akting. Untuk mencapai relaksasi atau mencapai
kondisi kontrol mental maupun fisik diatas panggung, konsentrasi adalah tujuan
utama. Ada korelasi yang sangat dekat antara pikiran dan tubuh. Seorang aktor
harus dapat mengontrol tubuhnya setiap saat dengan pengertian atas tubuh dan alasan
bagi perilakunya. Langkah awal untuk menjadi seorang aktor yang cakap adalah
sadar dan mampu menggunakan tubuhnya dengan efisien.
2. Ekspresi
Kemampuan Ekspresi merupakan pelajaran pertama
untuk seorang aktor, dimana ia berusaha untuk mengenal dirinya sendiri. Si
aktor akan berusaha meraih ke dalam dirinya dan menciptakan perasaan-perasaan
yang dimilikinya, agar mencapai kepekaan respon terhadap segala sesuatu.
Kemampuan Ekspresi menuntut teknik-teknik penguasaan tubuh seperti relaksasi,
konsentrasi, kepekaan, kreativitas dan kepunahan diri (pikiran-perasaan-tubuh
yang seimbang) seorang aktor harus terpusat pada pikirannya.
Kita menggunakan cara-cara non linguistik ini
untuk mengekspresikan ide-ide sebagai pendukung berbicara. Tangisan, infleksi nada,
gesture, adalah cara-cara berkomunikasi yang lebih universal dari pada bahasa
yang kita mengerti. Bahkan cukup universal untuk disampaikan kepada binatang
sekalipun.
3. Gesture
Gesture adalah impuls (rangsangan), perasaan atau
reaksi yang menimbulkan energi dari dalam diri yang selanjutnya mengalir
keluar, mencapai dunia luar dalam bentuk yang bermacam-macam; ketetapan tubuh,
gerak, postur dan infleksi (perubahan nada suara, bisa mungkin keluar dalam
bentuk kata-kata atau bunyi).
4. Gestikulasi
Bahasa tubuh adalah media komunikasi antar manusia
yang menggunakan isyarat tubuh, postur, posisi dan perangkat inderanya. Dalam
media ini, kita akan memahami bahasa universal tubuh manusia dalam aksi maupun
reaksi di kehidupan sehari-hari.
5. Olah Mimik
Perangkat wajah dan sekitarnya, menjadi titik
sentral yang akan dilatih. Dalam olah mimik ini, kita akan memaksimalkan
delikan mata, kerutan dahi, gerakan mulut, pipi, rahang, leher kepala, secara
berkesinambungan.
Mimik merupakan sebuah ekspresi, dan mata
merupakan pusat ekspresi. Perasaan marah, cinta, dan lain-lain akan terpancar
lewat mata. Ekspresi sangatlah menentukan permainan seorang aktor. Meskipun
bermacam gerakan sudah bagus, suara telah jadi jaminan, dan diksi pun kena,
akan kurang meyakinkan ketika ekspresi matanya kosong dan berimbas pada dialog
yang akan kurang meyakinkan penonton, sehingga permainannya akan terasa hambar.
6. Olah Tubuh
Warming-Up atau pemanasan sebaiknya
menjadi dasar dalam pelajaran acting. Melatih kelenturan tubuh, memulai dari
organ yang paling atas, hingga yang paling bawah. Latihan ini ditempuh untuk
mencapai kesiapan secara fisik, sebelum menghadapi latihan-latihan lainnya.
Olah tubuh bisa dilakukan dengan berbagai
pendekatan pada balet, namun kalau di Indonesia sangat mungkin berangkat dari
pencak silat atau tari daerahnya masing-masing seperti kebanyakan actor cirebon
dengan masres (sejenis teater tradisional cirebon) yang banyak menguasai tari
topengnya, juga tentu di Bali, Sunda dan banyak tempat yang berangkat dari
tradisinya dan kemudian dikembangkan pada tujuan pemeranan,.
Bowskill
dalam bukunya menyatakan “Stage and Stage Craft”, yang katanya Apa yang kau
lakukan dengan kedua tanganku. Pertanyaan tersebut dilanjutkannya pula dengan
Apa yang harus aku lakukan dengan kedua kakiku. Banyak aktor pemula selalu
gagal dalam menampilkan segi kesempurnaan Artistik, karena pada waktu puncak
klimaks selalu diserang oleh kekakuan, mengalami ketegangan urat.
Kekejangan ini memberikan pengaruh buruk pada Emosi
bagi pemeran yang sedang menghayati perannya, apabila hal ini menimpa Organ
suara maka se-orang yang mampunyai suara baik menjadi parau bahkan bisa
kehilangan suara, jika kekejangan itu menyerang kaki maka orang itu berjalan
seakan lumpuh, jika menimpa tangannya akan menjadi kaku.
Untuk mengendurkan ketegangan urat ada bermacam
cara latihan, dengan melalui latihan gerak, senam, tari-tari. Hingga gerakkan
dapat tercipta dengan gerakan artistic, dan dapat lahir dari Inter Akting
(Gerakan Dalam).
Olah tubuh sebaiknya dilakukan satu jam setengah
setiap hari, dalam dua tahun terus menerus, untuk memperoleh actor yang enak
dipandang mata, subjeknya: Senam irama; Tari Klasik, Main anggar, Berbagai
jenis latihan bernapas, latihan menempatkan suara diksi, bernyanyi, pantomime,
Tata Rias.
Suara
Penguasaan suara dalam seni acting
pada dasarnya adalah penguasaan diri secara utuh, karena kedudukan suara
dalam hal ini hanyalah merupakan salah satu alat ekspresi dan totalitas diri
kita sebagai seorang pemain (actor). Pengertian ‘penguasaan diti secara
utuh’ menuntut suatu keseimbangan seluruh aspek serta alat-alatnya, baik yang
menyangkut kegiatan indrawi, perasaan, pikiran atau yang bisa disebut segi-segi
dalam dari seni acting, maupun yang menyangkut segi-segi luarnya seperti
tubuh dan suara.
Latihan 1.
- Berbaring rata di lantai dan bernapaslah pada posisi
tersebut, rasakan tubuh betul-betul rileks.
- Berbaring dilantai, rasakan daya beratnya, pusatkan
pikiran kearah telapak kaki kita, ke ujung-ujung jari, rasakan seluruh
pergelangan kaki terlepas. Bayangkan seluruh nadi terisi udara, engsel-engsel
lututpun terisi udara biarkanlah tulang paha kita rileks sehingga daging dan
otot-otot menjadi satu dengan tulang-tulang. Bayangkan sendi-sendi pinggang dan
tuang paha berisi udara sehingga seluruh tubuh tidak lagi memberatkan kaki.
Biarkan otot punggung dan perut kita meleleh seperti air, biarkan punggung
rileks dan tidak usah memaksakan tulang punggung menjadi rata, biarkan
otot-otot seluruh tubuh dan kepala sampai rahang disamping telinga kita rileks
hingga gigi kita tidak terkunci juga lidah tidaklah lengket pada bagian atas
mulut, rahang menjadi seperti jatuh demikian juga dengan lidah yang tidak
saling menyentuh. Biarkan wajah kita terasa berat pada tulang tulang wajah,
biarkan pipi, bibir, pelupuk mata seluruhnya rileks.
- Rasakan tubuh kita di lantai melorot rileks tariklah nafas
secara penuh untuk merasakan sensasi-sensasi yang terjadi pada tubuh kita saat
di lantai akibat pernapasan yang alami itu. Ulangi itu terus menerus dengan
intens.
Latihan 2
- Waspadai bahwa ditengah kediaman tubuh kita yang rileks
itu akan tidak terelakan sebuah kondisi yang mudah untuk jatuh apabila nafas
keluar dan masuk dari tubuh, rileks bukan berarti tidak ada control terhadap
tubuh namun control sering kali membuat kita justru menjadi tegang, jadi
pernafasan yang berlangsung alami adalah citra dari rileks itu sendiri.
- Tariklah nafas secara mendalam tanpa paksaan, simpanlah
tangan di pundak untuk merasakan dorongan nafas pada diaphragma.
- Pada saat udara masuk ke dalam tubuh dan terhisap oleh
mulut atau hidung, masuk ke pusat dan keluar kembali, senantiasa merasakan
kehangatan udara di dalam tubuh dan dinginnya udara yang kita hisap tersebut.
- Pada saat merasakan udara yang masuk kedalam tubuh
ksenantiasa melakukan penghayatan pada udara tersebut, rasakan rasa lega yang
mendalam di dalam tubuh lalu hayatilah udara turun keperut dengan emosi yang
selalu terjaga (konsentrasi).
- Ulangi dorongan kausalitas tersebut dengan latihan
yang intensif, emosi terjaga, selalu merasakan bahwa saat latihan kita adalah
bagian alam semesta ini.
- Hal yang paling penting adalah menghindari
ketegangan-ketegangan, biarkan seluruhnya bergerak secara alami dan teratur
Olah Vokal
Vokal (Suara) dan Spech (ucapan) amatlah penting
di dalam sebuah pementasan sebuah drama, menurut MAURIZE ZOLOTOV merupakan
bagian dari isyarat ataupun symbol, menurutnya ada kalimat Emosional untuk
menyatakan perasaan dan ada pula kata-kata yang dapat digunakan sebagai senjata
mencapai kekuatan.
Menurut Henning Nelms tentang Spech ada lima :
1. Menyalurkan
kata-kata Drama kepada penonton.
2. Memberi arti-arti
khusus pada kata-kata tertentu melalui odulasi suara.
3. Memuat informasi
tentang sifat dan perasaaan – pemeranan
4. Mengendalikan
perasaan penonton.
5. Melengkapi
variasi.
Latihan Olah Vokal melalui latihan Spech (ucapan)
1. Diksi
Ucapan, lafal, menentukan suara yang harus
dipergunakan. Diksi, lagu (gaya) berkata, memberi kualitas kejelasan suara dari
sebuah kata yang diucapkan. Latih agar dapat membedakan dengan jelas membedakan
antara huruf-huruf p dengan b, t dengan d, k dengan g.
Cobalah :
|
1.
p----- p-----
p------
pp---- pp----
pp-----
ppp-- ppp--
ppp----
pppp- pppp- pppp--
ppppp bbbbb ppppp
|
|
2.
b----- b-----
b------
bb---- bb----
bb-----
bbb-- bbb--
bbb----
bbbb- bbbb- bbbb--
bbbbb ppppp bbbbb
|
(tanda garis hubung merupakan ketukan jarak)
Ulang-ulangilah latihan ini. Akan sangat efektif
bila dilakukan secara rutin tiap pagi atau sore. Tidak usah lama. Cukup barang
sepuluh atau lima belas menit saja.
Coba pula pada huruf-huruf yang lain dengan cara
yang sama, hingga semua dapat jelas terbedakan. Gerakan bibir merupakan sesuatu
yang amat penting bagi pengucapan yang jelas. Untuk memperoleh hal itu
maka gerakan bibir sebanyak mungkin. Aktifkan gerakan bibir.
2. Tekanan
Tekanan dicapai dengan kontras. Suatu kata
dapat diberi tekanan dengan mengubah tempo dan volumenya. Tempo
sangatlah penting artinya. Tempo yang terlalu cepat hanya memberi kesan suara
ribut. Saja. Kehilangan kandungan makna yang akan disampaikan
Kebiasaan bicara cepat itu bisa dihilangkan dengan berlatih membiasakan
ucapan-ucapan lambat. Mula – mula mengucapkan serentetan kata atau atau kalimat
hanya dengan gerakan bibir saja, lambat tanpa bersuara. Sesudah itu dengan
bersuara. Demikian berulang-ulang dilakukan.
Kata dapat diberi tekanan dengan merendahkan
volume. Misalnya mengucapkan kata dengan lemah dalam satu kalimat yang nyaring.
Belajarlah memberi tekanan pada suatu kata dengan memberi sedikit jeda sebelum
dan sesudahnya.
Perubahan dalam pikiran dapat diperlihatkan dengan
jeda atau dengan perubahan tiba-tia pada nada serta volumenya.
3. Bentuk Ucapan
Suatu ucapan Panjang atau pendek umumnya membangun
klimaks, maka dari permulaan dibangunlah : (1) volume, (2) intensitas emosi,
(3) variasi, (4) jarak, kecepatan.
Membangun satu unsure dari keempat unsure di atas
secara teknis amatlah sulit. Biasanya baik membangun dengan satu unsure, lalu
beralih pada yang lain, atau membangun dalam dua atau tiga unsure sekaligus.
4. Memuncak
Bila dua pemain atau lebih harus bersama-sama
membangun satu reka-rekaan yang disebut topping, memuncak, dipergunakan,
maka tiap pemain berkata pada saatu titik tinggi dalam volume, jarak, dan
sebagainya dari kata terakhir pemain sebelumnya. Ini mungkin efektif. Tapi
menuntut latihan, sebab pembangunan cenderung untuk meninggi begitu cepat hingga
ucapan ketiga. Maka satu penanjakan lagi sudah tidak mungkin.
Pengucapan
Untuk dapat berartikulasi dengan baik,
dibutuhkan kelenturan alat-alat pengucapan. Artikulasi yang baik, akan dapat
dicapai dengan menempatkan posisi yang wajar tetapi dengan penggunaan tenaga
efektif dan terkontrol.
Alat-alat tersebut antara lain:
Bibir
Sangat berperan dalam membentuk huruf-huruf hiduo
dan huruf M-B-P. Latihan dengan membentuk mulut dengan ruang gerak yang
maksimal, otot bibir berulang membentuk bunyi U-A-U-I-U-A-O-E. Pada saat
menyuarakan huruf u bibir dibentuk mengkerucut tarik semaksimal mungkin
kedepan. Pada bentuk O, bibir membuat bulatan dan jangan lupa tarik bibir
kearah depan tetap diperhatikan. Pada bunyi A, bibir seolah pada posisi menguap
membentuk lonjong maksimal. Pada bentuk bunyi I, bibir seolah ditarik pipi ke
samping sehingga mulut nampak pipih. Lakukan latihan ini berulang-ulang mulai
dengan tempo membentuk lambing-lambang bunyi, percepatan temponya semakin cepat
dan cepat lagi. Lakukan latihan dengan menyuarakan gabungan huruf mati dengan
huruf diatas, menjadi MU-BA-PU-MI-BU-PA-MO-BE berulang-ulang dari lambat ke
sedang dan cepat. Lakukan dengan diiringi latihan dan pernapasan.
Lidah
Lidah sangat berperan dalam membentuk bunyi huruf-huruf
mati seperti C-D-L-N-R-S-T dan
lainnya. Lidah yang lincah akan dapat menentukan pembentukan lafal yang baik,
tepat dan jelas. Latihan-latihan dimaksud untuk mencapai tingkat kelenturan
sehingga lidah tidak saja lemas dan lincah tetapi juga mempunyai kemampuan
seseorang yang mengalami kesulitan dalam membentuk bunyi R dan T. Latihan
lidah:
-
Menjulurkan dan menaril lidah berulang-ulang
-
Menjulurkan dan menarik ke atas => bawah, samping kanan => kiri dan
kemudian menjulurkannya untuk membuat gerakan berupa lingkaran.
-
Tempelkan ujung pada gigi seriates lalu dorong lidah keluar, tempelkan ujung
lidah pada gigi serri bawah lalu doronglah lidah keluar, lakukan
berulang-ulang.
-
Tutup mulut lalu bunyikan Bberrrrrrrrrrrrrrr, Trerrrrrrrrrrrr.
Rahang
Membantu pembentukan rongga mulut.
Lakukan latihan-latihan seperti ini:
-
Tutup dan buka mulut selebar mungkin, berulang-ulang.
-
Doronglah rahang bawah ke muka lalu buka ke bawah lalu tarik kea rah dalam/
leher lalu tutup mulut, rahang rapat, dorong ke muka kembali dan lakukan
seterusnya berulang-ulang semakin cepat.
-
Gerakan rahang bawah ke kanan dan kiri.
-
Buat lingkaran dengan rahang arah bergantian ke kanan dan ke kiri.
-
Ucapkan dalam satu helaan nafas hitung berapa pengulangan
bunyi:
wawawawawawawawa,
yayayayayayayayayaya
Langit-langit
Terdiri dari langit-langit keras dan langit-langit
lunak, merupakan bagian penting dalam pembentukan suara maupun pengucapan.
Selain itu, langit-langit berperan juga sebagai dinding resonator pada
rongga mulut. Latihan:
-
Tutup mulut berbuatlah seakan-akan anda sedang berkumur, buka rahang bawah
tetapi bibir tetap rapat, tekan langit-langit ke atas dank ke bawah pula.
-
Tutup mulut dalam keadaan rapat, kemudian lakukan seolah anda mengucapkan bunyi
M, B, K, N, NG, D, dan lainnya. Saat melakukan ini dapat dirasakan
langit-langit bergerak ke atas dan ke bawah.Setelah seluruhnya peralatan
pernapasan dan peralatan pengucapan kita latih dengan baik, barulah kita
mencoba dengan membaca dialog. Bacalah dengan volume yang sedang dan rasakann
pula dorongan nafas diaphragma, arahkan pembentukan suara ke resonator yang
dirasakan paling tepat. Misalnya ke rongga resonator dada, mulut atau hidung.
Pembentukan Suara
Nafas yang keluar melalui Trachea sesampainya pada
larynx akan menggetarkan pita suara, dank arena getaran itu timbulah suara.
Namun demikian suara tersebut baru akan terdengar baik bilamana terlah
beresonansi pada salah satu resonator, baik rongga mulut, rongga hidung atau
rongga dada. Misalnya, kalau bentuk rongga mulut bulat maka suara yang
diproduksinya akan bulat pula, tetapi kalau rongga mulut ditarik melebar
kesamping maka suara yang diproduksi akan terdengar ‘cempreng’. Seorang actor
harus lebih menekankan pemberian karakter pada suaranya. Mengolah texture dan
warna suara yang sesuai dengan peran yang dimainkannya.
Seorang actor juga harus bisa mengolah beberapa
warna vocal sesuai tuntutan scenario, seperti:
- Menaikkan dan menurunkan volume
suara.
- Meninggikan dan merendahkan
frekwensi nada bicara.
- Mengatur atau mengolah tempo
pengucapan.
- Mengatur atau mengolah warna dan
texture suara.
Latihan 1:
- Tariklah nafas dan keluarkan seperti
angina.
- Tariklah nafas dan keluarkan seperti
suara angina itu sendiri, rasakan efek nafas tersebut pada langit-langit
atas mulut, lidah dan pembentukannya.
- Tariklah nafas dan keluarkan dengan
suara seperti seolah sedang berbisik, rasakan bagaimana kandungan nafas dan
suara yang keluar.
- Tariklah nafas dan keluarkan dengan
teks dan seolah suara itu menyerupai angina.
- Seluruh latihan ini dilakukan secara
alami dan intens.
Latihan 2 :
- Tariklah napas dan keluarkan seperti
suara binatang berkaki empat (bayangkan harimau, ajah, anjing, kucing dan lain
sebainya).
- Tariklah nafas dan keluarkan seperti
suara jenis unggas (bayangkan menjadi burung, ayam, bebek, dan lain
sebagainya).
- Seluruh latihan ini dilakukan secara
alami dan intens.
Latihan 3 :
- Cobalah kata-kata apa saja dari
mulut.
- Cobalah berdialog improvisasi apa
saja keluar dari mulut.
- Cobalah baca beberapa teks lakukan
dengan alami dan bertahap lewat vibrasi yang volumenya di tambah.
- Lakukan observasi suara manusia dan
tirulah laku perannya (how old I am: rasakan sensasi-sensasi usia
yang ditiru pada teknik suara).
- Cobalah acting dengan teks.
- Hindari ketegangan-ketegangan.
Berikut ini catatan-catatan yang dibuat oleh Frans
Marajinen dari “Institut des Arts Spectaculaires” (INSAS) di Brussell selama
kursus yang diadakan oleh Jerzy Grotowsky dan sahabatnya, Ryszard Cieslak, pada
tahun 1966.
Dengan membandingkan latihan-latihan tahun
1959-1962, memang ada perubahan yang dapat dicatat yakni dalam orientasi dan
objek latihan yang merupakan hasil kerja beberapa tahun sebelumnya.
Dalam pengantarnya, Grotowsky menjelaskan bahwa
hubungan antar penonton dan actor adalah penting. Dengan dasar pemikiran ini,
dia memulai pelajaranya dengan semboyan: “Inti teater adalah actor,
perbuatan-perbuatannya, dan apa yang dapat ia capai”. Skema pelajarannya dan
berbagai macam latihan adalah didasari atas pengalaman secara metodik menuju
kepada teknik-teknik actor dan kehadirannya secara fisik di atas panggung.
Latihan-latihan Vokal Grotowski
Untuk memulainya, Grotowski membuat beberapa tanda
tentang sikap yang disesuaikan dengan kerja seseorang. Ia minta keterangan yang
mutlak kepada siapa saja yang hadir dalam ruangan, baik actor maupun penonton.
Ketawa haruslah ditahan pada bagian permulaan latihan nampak seperti permainan
sirkus. Mereka yang tidak biasa dengan metode tersebut hendaknya menerima
impresi ini, tapi secepatnya orang akan memahami apabila ia telah menghadiri
beberapa latihan dan melihat hasil yang dicapai. Penonton dalam hal ini adalah
mereka yang tidak ambil bagian aktif dalam latihan, dan mereka harus “tidak
terlihat dan tidak terdengar” oleh murid-murid.
Stimulasi atas Suara
Setiap actor memilih teks dan ia bebas untuk
membacanya, menyanyikannya atau bahkan dengan teks itu ia boleh berteriak.
Latihan ini dilakukan secara serempak. Sementara
itu Grotowski berjalan keliling diantara mereka, sekali-sekali meraba dada,
punggung, kepala atau perut si murid ketika ketika ia sedang membaca. Tidak
satu bagianpun yang terlewat dari perhatian Grotowski.
Setelah latihan ini selesai, dia menununjuk empat
orang. Yang lain kembali ketempat duduknya masing-masing untuk melihat
perkembangan teman-temannya. Mereka tidak boleh bersuara.
Grotowski menempatkan satu orang di tengah-tengah.
Aktor membaca semuanya dengan suara yang secara berangsur-angsur ditambah
volumenya. Kata-kata disuarakan kembali dengan mantap, langit-langit
seakan-akan tengkorak bagian depanlah yang sedang berbicara. Kepala jangan
terkulai kebelakang sehingga menyebabkan laring tertutup. Melalui echo
langit-langit menjadi kawann berdialog yang akan mengambil bentuk pertanyaan
maupun jawaban (selama latihan Grotowski memimpin murid-muridnya dengan aba-aba
tangan, mengelilingi ruangan). Selanjutnya, dimulailah percakapan dengan
tembok, juga secara improvisasi. Di sinilah bukti bahwa echo adalah
jawaban. Seluruh badan merespon terhadap echo . Suara asli masuk dan
keluar melalui dada.
Kemudian suara ditempatkan di perut. Dalam acara
ini percakapan dilangsungkan dengan lantai. Kedudukan badan: “seperti seekor
sapi gemuk”
Catatan: Grotowski menekankan bahwa selama latihan
pikiran harus dikosongkan. Murid-murid membaca teks tanpa berpikir dan tanpa pause.
Grotowski akan menyetop setiap kali ia melihat ada murid sedang berpikir dalam
latihan.
Suara latihan diperlihatkan, secara berurutan:
1. Suara kepala (menghadap
kelangit-langit).
2. Suara Mulut (seakan berbicara pada
udara di hadapannya)
3. Suara occipital (menghadap
langit-langit tepat di atas actor).
4. Suara dada (diproyeksi di depan
actor)
5. Suara perut (menghadap kelantai)
Suara keluar dari kedua belah bahu(menghadap
langit-langit tepat diatas actor); the small of the back (menghadap
ke dinding di samping actor); bagian lumbar (menghadap kelantai, dinding dan
ruang disampingnya)
Grotowski tidak membiarkan actor beristirahat
sebentar pun. Ketika actor sedang membaca, ia berkeliling membaca
stimulasi dan “meremas” bagian tertentu badan murid, sehingga melepaskan impuls-impuls
yang terbawa oleh suara.
Ritme latihan sangat cepat. Seluruh tubuh harus
diikutsertakan walau hanya untuk latihan vocal saja. Suatu latihan relaxation
terdiri dari improvisasi percakapan dengan tembok, sepenuhnya bebas dari tensi.
Murid harus secara tetap menyadari bahwa echo harus selalu ditangkap.
Sungguh menakjubkan bagaimana Cieslak pemain utama
dan teman dekat Grotowski selalu memberikan contoh dan melihat banyak latihan
serta mengikuti perkembangan murid-murid dengan penuh latihan.
Latihan “Macan”
Latihan ini untuk membuat si actor secara penuh
tampil dan dalam waktu yang bersamaan, menyusun suara parau dalam acting.
Grotowski ikut serta dalam latihan ini. Ia
memainkan seekor macan yang sedang menyerang mangsanya. Murid-murid (mangsanya)
bereaksi, meraung seperti macan.
Itu bukanlah sekedar meraung. Suaranya haruslah
didasarkan pada teks, dan mempertahankan terus seperti itu adalah penting
sekali dalam latihan ini.
Grotowski : “Sini, lebih dekat …teks…teriak… saya
adalah seekor macan, bukan kau…. Saya akan menelan kau….”
Dalam hal ini ia mendorong murid-murid untuk
memasuki permainan secara penuh. Sungguh hebat bagaimana murid-muridnya
kemudian mengikuti latihan ini. Sekarang semua perasaan malu-malu menjadi
lenyap. Kekurangannya hanyalah karena belum terbiasa dengan teks, dan memang
dalam improvisasi, kata-kata tidak timbul secara mudah.
Tiba-tiba Grotowski menginterupsilatihan (tidak disadari
beberapa murid dalam hal ini menunjukan bahwa mereka benar-benar secara total
adalah jelas dimaksudkan untuk “mengistirahatkan” organ-organ suara. Grotowski
menganggap bahwa “vocal relaxation” adalah sangat penting , terutama
bagi mereka yang berlatih untuk pertama kalinya. Organ-organ ini suara belum terbiasa
digunakan dengan cara ini. Cara pendidikan Grotowski yang keras nampak dalam
kenyataannya bahwa murid-murid mengalami kesulitan menahan latihan. Mereka
tidak memperhatikan penonton yang mana hal itu merupakan suatu yang luar biasa
dalam keseluruhan proses latihan.
Latihan “King-Kong”
Inti dari latihan ini adalah mengulang-ulang
ucapan kata “King” pada nada yang sangat tinggi dan tempo yang sangt cepat,
dengan seluruh rentetan variasi dari nada rendah ke nada tinggi.
Akhirnya suara ke luar dari occiput yang sementara
adalah Grotowski memperoleh hasil yang luar biasa dengan improvisasi kata
ini pada nada yang lebih tinggi. Setelah kira-kira lima menit, atas petunjuk
Grotowski, murid-murid mencapai skala vocal yang tinggi dan nampak bagi mereka
sebagai sesuatu yang baru. Kami mendapatkan keadaan itu karena banyak
wajah-wajah murid yang nampak surprise.
Latihan “La-La”
Latihan dimulai dengan berjalan keliling serta
menyanyikan “la-la” kemudian Grotowski merebahkan diri, terlentang diri,
terlentang di atas lantai. Lalu “la-la” di ulang dengan menghadap ke
langit-langit, dinding dan lantai sebagai alternatip suara kepala, perut dan
dada.
Grotowski berpesan agar mereka melonggarkan perut
dan mendorong resonator yang terletak di perut.
Setelah latihan ini, murid-murid tetap terlentang
di atas lantai untuk beberapa saat, istirahat secara penuh.
(Catatan: Hasilnya sunggu luar biasa. Bahkan
setelah pelajaran pertama suara murid-murid bisa mencapai intonasi yang
sebelumnya tidak pernah mereka sangka dapat mereka miliki).
Grotowski memulai lagi dengan serangkaian
latihan-latihan sama seperti yang diberikan kepada murid yang pertama.
1. Simulasi vocal
keluar dari resonator-resonator yang berbeda
2. Suara kepala
(menghadap kelangit-langit).
3. Suara Mulut
(seakan berbicara pada udara di hadapannya)
4. Suara occipital
(menghadap langit-langit tepat di atas actor).
5. Suara dada
(diproyeksi di depan actor)
6. Suara perut
(menghadap kelantai
Suara-suara yang keluar dari:
a. sepasang bahu (menghadap kelangit-langit di
samping actor)
b. the small of the back (menghadap dinding
disamping actor)
c. the lumber region (menghadap lantai,
dinding dan ruangan di sampingnya)
ARTIKULASI
Yang dimaksud dengan artikulasi pada teater adalah
pengucapan kata melalui mulut agar terdengar dengan baik dan benar serta jelas,
sehingga telinga pendengar/penonton dapat mengerti pada kata‑kata yang
diucapkan.
Pada pengertian artikulasi ini dapat ditemukan beberapa
sebab yang mongakibatkan terjadinya artikulasi yang kurang/tidak benar, yaitu :
Cacat artikulasi alam : cacat artikulasi ini
dialami oleh orang yang berbicara gagap atau orang yang sulit mengucapkan salah
satu konsonon, misalnya ‘r’, dan sebagainya.
Artikulasi jelek ini bukan disebabkan karena
cacat artikulasi, melainkan terjadi sewaktu‑waktu. Hal ini sering terjadi pada
pengucapan naskah/dialog.
Misalnya:
o Kehormatan menjadi kormatan
o Menyambung menjadi mengambung, dan sebagainya.
Artikulasi
jelek disebabkan karena belum terbiasa pada dialog, pengucapan terlalu cepat,
gugup, dan sebagainya.
Artikulasi tak tentu : hal ini terjadi karena
pengucapan kata/dialog terlalu cepat, seolah‑olah kata demi kata berdempetan
tanpa adanya jarak sama sekali.
Untuk mendapatkan artikulasi yang baik maka kita
harus melakukan latihan
Mengucapkan alfabet dengan benar, perhatikan
bentuk mulut pada setiap pengucapan. Ucapkan setiap huruf dengan nada‑nada
tinggi, rendah, sengau, kecil, besar, dsb. Juga ucapkanlah dengan berbisik.
Variasikan dengan pengucapan lambat, cepat,
naik, turun, dsb
Membaca kalimat dengan berbagai variasi seperti
di atas. Perhatikan juga bentuk mulut.
GETIKULASI
Getikulasi adalah suatu cara untuk memenggal kata
dan memberi tekanan pada kata atau kalimat pada sebuah dialog. Jadi seperti
halnya artikulasi, getikulasi pun merupakan bagian dari dialog, hanya saja
fungsinya yang berbeda.
Getikulasi tidak disebut pemenggalan kalimat
karena dalam dialog satu kata dengan satu kalimat kadang‑kadang memiliki arti
yang sama. Misalnya kata “Pergi !!!!” dengan kalimat “Angkat kaki dari sini
!!!”. Juga dalam drama bisa saja terjadi sebuah dialog yang berbentuk “Lalu ?”
, “Kenapa ?” atau “Tidak !” dan sebagainya. Karena itu diperlukan suatu
ketrampilan dalam memenggal kata pada sebuah dialog.
Getikulasi harus dilakukan sebab kata‑kata yang
pertama dengan kata berikutnya dalam sebuah dialog dapat memiliki maksud yang
berbeda. Misalnya: “Tuan kelewatan. Pergi!”. Antara “Tuan kelewatan” dan
“Pergi” harus dilakukan pemenggalan karena antara keduanya memiliki maksud yang
berbeda.
Hal ini dilakukan agar lebih lancar dalam
memberikan tekanan pada kata. Misalnya “Tuan kelewatan”……. (mendapat tekanan),
“Pergi….” (mendapat tekanan).
INTONASI
Seandainya pada dialog yang kita ucapkan, kita
tidak menggunakan intonasi, maka akan terasa monoton, datar dan membosankan.
Yang dimaksud intonasi di sini adalah tekanan‑tekanan yang diberikan pada kata,
bagian kata atau dialog. Dalam tatanan intonasi, terdapat tiga macam, yaitu :
1. Tekanan Dinamik (keras‑lemah)
Ucapkanlah
dialog pada naskah dengan melakukan penekanan‑penekanan pada setiap kata yang
memerlukan penekanan. Misainya saya pada kalimat “Saya membeli pensil ini”
Perhatikan bahwa setiap tekanan memiliki arti yang berbeda.
- SAYA membeli pensil ini. (Saya, bukan orang
lain)
- Saya MEMBELI pensil ini. (Membeli, bukan,
menjual)
- Saya membeli PENSIL ini. (Pensil, bukan buku
tulis)
- Tekanan.Nada (tinggi)
Cobalah
mengucapkan kalimat/dialog dengan memakai nada/aksen, artinya tidak mengucapkan
seperti biasanya. Yang dimaksud di sini adalah membaca/mengucapkan dialog dengan
Suara yang naik turun dan berubah‑ubah. Jadi yang dimaksud dengan tekanan nada
ialah tekanan tentang tinggi rendahnya suatu kata.
- Tekanan Tempo
Tekanan
tempo adalah memperlambat atau mempercepat pengucapan. Tekanan ini sering
dipergunakan untuk lebih mempertegas apa yang kita maksudkan. Untuk latihannya
cobalah membaca naskah dengan tempo yang berbeda‑beda. Lambat atau cepat silih
berganti.
WARNA SUARA
Hampir setiap orang memiliki warna suara yang
berbeda. Demikian pula usia sangat mempengaruhi warna suara. Misalnya saja
seorang kakek, akan berbeda warna suaranya dengan seorang anak muda. Seorang
ibu akan berbeda warna suaranya dengan anak gadisnya. Apalagi antara laki‑laki
dengan perempuan, akan sangat jelas perbedaan warna suaranya.
Jadi jelaslah bahwa untuk membawakan suatu dialog
dengan baik, maka selain harus memperhatikan artikulasi, getikulasi dan
intonasi, harus memperhatikan juga warna suara. Sebagai latihan dapat dicoba
merubah‑rubah warna suara dengan menirukan warna suara seorang tua, pengemis,
anak kecil, dsb.
Selain mengenai dasar‑dasar vocal di atas, dalam
sebuah dialog diperlukan juga adanya suatu penghayatan. Mengenai penghayatan
ini akan diterangkan dalam bagian tersendiri. Untuk latihan cobalah membaca
naskah berikut ini dengan menggunakan dasar‑dasar vocal seperti di atas.
(Si Dul masuk tergopoh‑gopoh)
Dul : Aduh Pak….e…..e…..itu, Pak…. Anu….
Pak….a….a….ada orang bawa koper, pakaiannya bagus. Saya takut, Pak, mungkin dia
orang kota, Pak.
Paiman : Goblog ! Kenapa Takut ? Kenapa tidak kau
kumpulkan orang-orangmu untuk mengusirnya ?
Pak Gondo : (kepada Paiman) Kau lebih-lebih Goblog
! Kau membohongi saya ! Kau tadi lapor apa ?! Sudah tidak ada orang kota yang
masuk ke daerah kita, hei ! (sambil mencengkeram Paiman).
Paiman : Sungguh, Pak, sudah lama tidak ada orang
kota yang masuk.
Pak Gondo : (membentak sambil mendorong) Diam Kamu
!
(kepada si Dul) Di mana dia sekarang ?
Dul : Di sana Pak, mengintip orang mandi di kali
sambil motret.
BLOCKING
Yang dimaksud dengan blocking adalah kedudukan tubuh pada saat diatas
pentas. Dalam permainan drama, blocking yang baik sangat diperlukan,
oleh karena itu pada waktu bermain kita harus selalu mengontrol tubuh kita agar
tidak merusak blocking. Yang dimaksud dengan blocking yang baik
adalah blocking tersebut harus seimbang, utuh, bervariasi dan memiliki
titik pusat perhatian serta wajar.
- Seimbang
Seimbang berarti kedudukan pemain, termasuk juga
benda-benda yang ada diatas panggung (setting) tidak mengelompok di satu
tempat, sehingga mengakibatkan adanya kesan berat sebelah. Jadi semua bagian
panggung harus terwakili oleh pemain atau benda-benda yang ada di panggung.
Penjelasan lebih lanjut mengenai keseimbangan panggung ini akan disampaikan
pada bagian mengenai “Komposisi Pentas “.
- Utuh
Utuh
berarti blocking yang ditampilkan hendaknya merupakan suatu kesatuan.
Semua penempatan dan gerak yang harus dilakukan harus saling menunjang dan
tidak saling menutupi.
- Bervariasi
Bervariasi
artinya bahwa kedudukan pemain tidak disuatu tempat saja, melainkan membentuk
komposisi-komposisi baru sehingga penonton tidak jenuh. Keadaan seorang pemain
jangan sama dengan kedudukan pemain lainnya. Misalnya sama-sama berdiri,
sama-sama jongkok, menghadap ke arah yang sama, dsb. Kecuali kalau memang
dikehendaki oleh naskah.
- Memiliki titik pusat
Memiliki
titik pusat artinya setiap penampilan harus memiliki titik pusat perhatian. Hal
ini penting artinya untuk memperkuat peranan lakon dan mempermudah
penonton untuk melihat dimana sebenarnya titik pusat dari adegan yang
sedang berlangsung. Antara pemain juga jangan saling mengacau sehingga akan
mengaburkan dimana sebenarnya letak titik perhatian.
- Wajar
Wajar
artinya setiap penempatan pemain ataupun benda-benda haruslah tampak wajar, tidak
dibuat-buat. Disamping itu setiap penempatan juga harus memiliki motivasi dan
harus beralasan.
Dalam drama kontemporer kadang-kadang naskah tidak menuntut blocking
yang sempurna, bahkan kadang-kadang juga sutradara atau naskah itu sendiri sama
sekali meninggalkan prinsip-prinsip blocking. Ada juga naskah yang menuntut adanya gerak-gerak
yang seragam diantara para pemainnya.
NASKAH
Setelah kita mengenal berbagai macam dasar yang
diperlukan untuk bermain drama, akhirnya sampailah kita pada naskah. Naskah
disini diartikan sebagai bentuk tertulis dari suatu drama. Sebuah naskah
walaupun telah dimainkan berkali-kali, dalam bentuk yang berbeda-beda, naskah
tersebut tidak akan berubah mutunya. Sebaliknya sebuah atau beberapa drama yang
dipentaskan berdasarkan naskah yang sama dapat berbeda mutunya. Hal ini tergantung pada penggarapan dan situasi,
kondisi, serta tempat dimana dimainkan naskah tersebut.
1.Tema
Tema
adalah rumusan inti sari cerita yang dipergunakan dalam menentukan arah dan
tujuan cerita. Dari tema inilah kemudian ditentukan lakon-lakonnya.
2.Lakon
Dalam
cerita drama lakon merupakan unsur yang paling aktif yang menjadi penggerak
cerita.oleh karena itu seorang lakon haruslah memiliki karakter, agar dapat
berfungsi sebagai penggerak cerita yang baik. Disamping itu dalam naskah akan ditentukan dimensi-dimensi sang lakon.
Biasanya ada 3 dimensi yang ditentukan yaitu :
v Dimensi fisiologi
; ciri-ciri fisik usia, jenis kelamin, keadaan tubuh,dll
v Dimensi
sosiologi ; status sosial, kehidupan pribadi,
pandangan hidup dll.
v Dimensi
psikologis ; sifat, sikap dan kelakuan, kecakapan, dll.
Apabila kita mengabaikan salah satu saja dari
ketiga dimensi diatas, maka lakon yang akan kita perankan akan menjadi tokoh
yang kaku, timpang, bahkan cenderung menjadi tokoh yang mati.
3.Plot
Plot
adalah alur atau kerangka cerita. Plot adalah suatu keseluruhan peristiwa
didalam naskah. Secara garis besar, plot drama dapat dibagi menjadi beberapa
bagian yaitu :
§ Pemaparan
(eksposisi)
Bagian pertama dari suatu pementasan drama adalah
pemaparan atau eksposisi. Pada bagian ini diceritakan mengenai tempat, waktu dan segala situasi dari
para pelakunya. Kepada penonton disajikan sketsa cerita sehingga penonton dapat
meraba dari mana cerita ini dimulai. Jadi eksposisi berfungsi sebagai pengantar
cerita.
§ Dialog
Dialog berisikan kata-kata. Dalam drama para lakon
harus berbicara dan apa yang diutarakan mesti sesuai dengan perannya, dengan
tingkat kecerdasannya, pendidikannya, dsb. Dialog berfungsi untuk mengemukakan
persoalan, menjelaskan perihal tokoh, menggerakkan plot maju, dan membukakan
fakta.
§ Komplikasi
awal atau konflik awal
Kalau pada bagian pertama tadi situasi cerita
masih dalam keadaan seimbang maka pada bagian ini mulai timbul suatu
perselisihan atau komplikasi. Konflik merupakan kekuatan penggerak drama.
§ Klimaks dan
krisis
Klimaks dibangun melewati krisis demi krisis.
Krisis adalah puncak plot dalam adegan. Konflik adalah satu komplikasi yang
bergerak dalam suatu klimaks.
§ Penyelesaian
(denouement)
Drama terdiri dari sekian adegan, dimana
didalamnya terdapat krisis-krisis yang memunculkan beberapa klimaks. Satu
klimaks terbesar dibagian akhir selanjutnya diikuti adegan penyelesaian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar